Selasa, 21 November 2017

WHAT IS EDUCATION?




Salah satu hal yang sangat penting dan mendasar untuk dibahas dari dahulu hingga sekarang adalah pendidikan. Berbicara menegenai pendidikan tentunya tidak terlepas dari peran seorang guru, yang dalam istilah jawa boleh jadi diartikan sebagai sosok yang “digugu” dan “ditiru”, maka tidak berlebihan jika kita mengatakan guru sebagai “role model” dalam dunia pendidikan. Tentunya boleh saja kita bertanya kepada seorang guru tentang inti profesinya “Apa yang sebenarnya Anda lakukan sebagai seorang guru?,” maka dengan jelas  seorang guru menjawab “saya mendidik murid-murid saya”.
Well, kita bisa saja setuju dengan pernyataannya untuk mendidik murid-muridnya, namun kita mencoba kembali untuk melontarkan pertanyaan-pertanyaan lain, misalnya: Apa yang Anda ketahui tentang pendidikakn? Apa yang Anda lakukan ketika mendidik seseorang? Terkesan simpel memang pertanyaan-pertanyaan tersebut, namun jawabannya tidak mudah dan tidak sederhana. Misalnya, apakah tanggapan berikut benar-benar menjawab pertanyaan: Apa yang Anda maksud dengan pendidikan?

  • Saya mengajar murid saya untuk membaca, menulis, menghitung serta dapat mengoperasikan komputer

  • Saya mengajar murid saya supaya mereka dapat menjadi masyarakat yang hebat

  • Saya mengajar agar murid dapat menghargai seni, literatur, musik serta drama

  • Saya mengajar agar murid saya memiliki skill (keterampilan) yang dibutuhkan di seluruh elemen industri dan bisnis

  • Saya mengajar murid saya supaya mereka menjadi pemikir yang kritis dan dapat menyelesaikan masalah

Apakah tanggapan tersebut cukup mewakili jawaban dari pertanyaan-pertanyaan diatas? Ada baiknya jika kita merujuk pada kamus mengenai makna pendidikan sebenarnya, maka dapat ditemui sebagai berikut:

  1. Pendidikan adalah sebuah perlakuan/ proses mendidik atau terdidik 
  2. Pendidikan adalah sebuah perlakuan/ proses untuk menyiapkan seseorang dan membekalinya dengan pengetahuan, keterampilan, kompetensi atau biasanya kualitas perilaku atau karakter yang diinginkan dengan kursus formal, instruksi, atau training
  3. Pendidikan adalah sebuah pengkondisian, penguatan, atau pendisiplinan terhadap diri seseorang
Meskipun makna leksikal tersebut mengarahkan kita pada sebuah jawaban, namun ternyata tidak memberi tahu kita secara jelas mengenai jenis pengetahuan, keterampilan, kompetensi, atau kualitas perilaku yang diinginkan. Inilah yang akhirnya menimbulkan pertimbangan "what kind of" atau "whatness" yang membawa kita pada filsafat pendidikan. Ketika kita berurusan dengan pertanyaan filosofis, maka kita akan concern dengan fokus yang paling umum tentang apa yang benar, apa yang baik, dan apa yang indah untuk semua kalangan, bukan saja untuk kepentingan beberapa orang. Maka di sini, kita dihadapkan dengan empat subdivisi utama filosofi, yaitu:
……
To be continued :) 😃
Adapted from Gera D L. Gutek’s book, “Philosophical and Ideological Voices in Education”

Rabu, 01 November 2017

الحياة المسيرة أم الحياة المخيرة؟

Begitu pertanyaan yang dilontarkan salah satu dosen kami usai diskusi renyah malam ini..


Terkadang:
Hidup dapat dimaknai sebagai ssuatu yg telah dijalankakn oleh Pencipta,
ketika ssorg menghaapkan dan telah mmilihnya untuk dijalankan misalnya, namun Tuhan dn keadaan berkata lain, lalu ia dengan mudahnya mengikkuti arus..


dapat juga dimaknai sebagai pilihan kala seseorang benar-benar memilih keputusan yang ia hendaki dan dengan sekuat tenaga ia berusaha merealisasikannya tak peduli apapun rintangannya, karna baginya hidup tergantung usahanya..

Lalu bagaimana denganmu??

Ah, bagiku hidup itu 'lucu'..
Mengapa?

lucu, karena terkdang hidup mmbuat ku tertawa atas kekonyolan yang tak pernah terbayangkan sama sekali..
lucu, karena terkadang membuatku berkali-kali menyeka air mata lara pun bahagia..
lucu, karena terkadang membuat langkah kakiku tak dapat mengayuh..
lucu, karena terkadang...
ah, sudahlah..

Senin, 21 Agustus 2017

ILMU USLUBIYAH: PENDEKATAN MEMAHAMI FILSAFAT ALQURAN



Oleh: Isna Rahmah Solihatin
Alquran adalah kitab terakhir yang Allah turunkan kepada Nabi Muhammad sekaligus menjadi kiteb penyempurna dari kitab-kitab terdahulu sebelum Alquran yaitu Taurat, Zabur, dan Injil. Allah menurunkan Alquran sebagai pedoman hidup bagi manusia. Selain itu, Alquran adalah mukjizat Rasulullah yang berlaku hingga akhir zaman. Allah yang menurunkannya dan Dia pula yang memelihara kemurniannya.
           
Al-Quran sebagai pedoman hidup manusia tentunya mengatur segala aspek kehidupan, mulai dari sains hingga ilmu sosial. Dalam bidang sains misalnya, Alquran menyebutkan tentang bagaimana manusia diciptakan dengan bentuk yang paling sempurna (ahsani taqwiim) dengan seluruh komponen dhzohiriyyah maupun bathiniyyah, terutama akal manusia.
            Akal yang dimiliki manusia merupakan potensi (luar biasa) yang dianugerahkan Allah kepada manusia, karena dengan akalnya manusia memperoleh pengetahuan dengan berbagai hal. Manusia dengan commen sense-nya dapat membedakan  mana yang benar dan mana yang salah, mana yang baik dan yang buruk, mana yang menyelamatkan dan mana yang menyesatkan, mengetahui rahasia hidup dan kehidupan dan seterusnya.
            Tidaklah berlebihan jika agama dan ajaran islam memberikan tempat yang tinggi kepada akal, karena akal dapat digunakan memehami agama dan ajaran islam sebaik-baiknya dan seluas-luasnya. Berulangkali al-Qur’an sebagai sumber keberagamaan sesorang memerintahkan manusia untuk berpikir dan menggunakan akalnya (QS. Saba’ : 46). Tuntutan dalam berpikir meliputi kesugguhan, tanggung jawab, dan kemanfaatan
            Tuntutan untuk berfikir yang disertai dengan kesungguhan serta tanggung jawab tentunya akan melahirkan output berupa kebenaran yang hakiki mengenai semua yang ada dalam pedoman keberagamaannya. Proses berfikir tersebut kemudian diberi label “berfilsafat.” Berfilsafat mengenai al-Quran artinya berproses mencari kebenaran-kebenaran yang ada dalam al-Quran ditinjau dari berbagai segi, misalnya bahasa.
            Seorang peneliti bahasa akan mengatakan bahwa bahasa al-Quran banyak ketidaksesuaian dengan kaidah bahasa yang benar. Hal tersebut dapat menjadi sebuah masalah ketika seseorang menjadikannya dalil untuk mengatakan bahwa al-Quran tidak dapat dibenarkan keabsahannya dilihat dari sisi kebahasaan. Namun tentunya sebagai wahyu terbesar yang diturunkan kepada Nabi terkahir umat Muslim, hal ini adalah bentuk kemukjizatan dari Al-Quran itu sendiri, dimana tidak dapat seorangpun untuk meniru keindahan Bahasa Al-Quran. Banyak Ilmuwan bahasa yang kemudian menulis tentang rahasia-rahasia dibalik keindahan bahasa al-Quran. Salah satu kenbenaran akan keindahan bahasa Al-Quran dapat ditelaah melalui ilmu uslubiyah.
            Ilmu uslubiyah merupakan salah satu cabang ilmu bahasa kontemporer yang mendalami tentang penjelasan terhadap karakteristik sebuah karya sastra (termasuk al-Quran) baik dari segi ashwat (fonologi), shorof (morfologi), nahwu (sintaksis), balaghah (stilistika), maupun tajwid. Kebenaran mengenai kemukjizatan sebuah ayat dalam al-quran dapat ditelaah dengan ilmu uslubiyah ini dengan menggunakan  beberapa analisis, diantaranya:
a.      Analisis Ashwat: bagaimana sebuah kata dalam ayat alquran dapat mengeluarkan bunyi, dimana dalam analisis ini bunyi tersebut dapat dikaitkan dengan ilmu tajwid yang membahas tentang makaharijul huruf dan shifatul huruf.
b.      Analisis Shorf: menganalisa bentuk kata, apakah dia subjek, predikat, objek, kata sifat, kata keterangan dan lain sebagainya.
c.      Analisis Nahwu: menganalisa kalimat dalam sebuha ayat al-quran.
d.     Analisis Dilalah: menganalisa makna dalam sebuah ayat al-quran
e.      Analisis Ta’bir: menganalisa ungkapan yang terdapat dalam ayat al-quran
f.       Analisis Ihso’iy: menganalisa kebenaran dengan menggunakan ilmu hitung, misal dalam surat annas terdapat huruf sin sekian, huruf mim sekian dst.
g.      Analisis Wadhzifiy: menganalisa fungsi suatu ayat dalam al-Quran. Analisis Wadzhifiy ini merupakan langkah terkahir untuk menganalisa sebuah ayat yang kemudian nantinya akan mengungkan kebenaran implisitas (the truth of impplicity) sebuah ayat.
            Namun sayangnya, masih sedikit sekali yang meneliti kebenaran al-Quran dengan menggunakan ilmu ini. Hal ini kemudian menarik perhatian penulis untuk memngkaji lebih dalam tentang filsafat al-quran dengan menggunakan pendekatan ilmu uslubiyah. Dengan demikian truth claim atau klaim atas kebenaran sebuah pedoman keberagamaan umat Muslim tidak diragukan lagi.

Jumat, 17 Maret 2017

Gaya Bahasa Kisah dalam Al-quran


Oleh: Isna Rahmah Solihatin



Kebenaran kisah dalam al-quran telah tertera dalam al-quran surat al-imran, ayat 62:
إن هذا لهو القصص الحق
“sesungguhnya, ini adalah kisah yang benar”

Oleh karenanya, tidaklah benar jika banyak orang yang mengatakan bahwa kisah al-quran adalah mitos, dan dibuat-buat, bahkan kisah dalam al-Quran banyak memberikan pembelajaran. Hal demikian juga telas dijelaskan dalam firman Allah SWT:
لقد كان في قصصهم عبرة لأولى الألباب (يوسف: 111)
“Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaranbagi orang-orang yang mempunyai akal” (QS. Yusuf: 111)


Kisah-kisah dalam al-quran tentunya tidak semata-mata menceritakan kisah terdahulu, melainkan juga memiliki fungsi mengapa kisah-kisah tersebut dihadirkan dalam al-Quran. Diantara fungsi adanya kisah-kisah dalam alquran antara lain:
-          - Sebagai ibrah (pelajaran yang dapat dipetik)
-         -  Legitimasi (pembenar) terhadap kitab suci sebelumnya
-         - Elaborasi eksplanatif (penjelasan Firman Allah)
-         -  Petunjuk kehidupan
-         -  Bukti kasih sayang Allah terhadap umat para Nabi

Selain memiliki fungsi, kisah-kisah yang termaktub dalam al-quran juga memiliki kharakteristik tersendiri, ditinjau dari segi gaya bahasa, diantaranya adalah:
-          -Kisah dalam alquran memiliki gaya bahasa yang informatif
-          - Kisah dalam alquran menggunakan gaya bahasa dialog
-          - Kisah dalam alquran menggunakan gaya bahasa narasi kronologi
-          - Kisah dalam alquran memiliki gaya bahasa yang repititif
-          - Kisah dalam alquran memiliki gaya bahasa yang puitis
-          - Kisah dalam alquran menggunakan gaya bahasa yang responsif

Gaya bahasa Kisah dalam al-quran juga dinilai sebagai gaya bahasa dengan model komunikasi efektif, karena memiliki diksi yang tepat, logis. Selain itu, model komunikasinya santun, sarat dengan balaghah dan kemukjizatan al-quran, juga menawarkan banyak solusi atas permasalahan-permasalahan yang terkait dengan tema kisah.


Minggu, 08 Januari 2017

ETOS KERJA MUSLIM PROFETIK: UPAYA MEWUJUDKAN CITA INDONESIA BERKEADABAN



Oleh: 
Isna Rahmah Solihatin
A.    Pendahuluan
Dewasa ini umat Islam Indonesia dihadapkan pada tiga problem besar dan serius. Problem tersebut dapat dikategorikan ke dalam tiga level yaitu lokal, nasional dan global (Amin Abdullah: 2016). Level lokal berkaitan dengan nilai-nilai yang berkembang di tengah masyarakat. Pada posisi ini, bagaimana Islam bersikap bijak dalam menyantuni kearifan yang berkembang di tengah masyarakat selama tidak bertentangan dengan nilai dasar Islam.Persoalan selanjutnya ialah pada level nasional, yaitu persoalan yang menyangkut bagaimana Islam berdampingan dengan demokrasi, Pancasila dan tatanan kenegaraan lainnya. Sedangkan persoalan pada level berikutnya yaitu global yang terdiri dari berbagai persoalan seperti HAM dan kemiskinan.
Indonesia juga dihadapkan dengan permasalahan yang menuntut jawaban dari seluruh elemen masyarakatnya. Setelah belasan tahun melaksanakan reformasi, namun ternyata  masyarakat Indonesia bertambah resah. Ancaman tindak kriminalitas  yang menganggu hak setiap orang untuk mendapatkan keamanan juga terus meningkat dari tahun ke tahun. Berdasarkan catatan akhir tahun 2013 Polda Metro Jaya, tiap 10 menit di wilayah hukumnya mencuat satu kasus kejahatan. Crime clock mengalami perlambatan selama 9 detik yaitu dari 9 menit57 detik pada tahun 2011 menjadi 10 menit 6 detik di tahun 2012. Artinya pada tahun 2012 setiap 10 menit 6 detik terjadi satu kasus kejahatan. Kejahatan yang masih menonjol di tahun 2012 yakni kasus perampokan. Aksi pencurian dan kekerasan ini makin merajalela. Tahun 2013 sebanyak 1.094 kasus, meningkat 159 kasus atau 17,00 persen dibanding tahun sebelumnya yang berjumlah 925 kasus. Dari 1.094 kejadian perampokan itu, yang terungkap 610 kasus atau 55,75 persen (Polda Metro Jaya: 2013).
Tindak kriminalitas di atas menunjukkan bahwa  Indonesia sedang di landa dekadensi moral. Adanya tindak perampokan, pencurian serta kekerasan menggambarkan bahwa salah satu penyebab dekadensi moral anak bangsa adalah problem ekonomi yang melanda. Probelem ekonomi merupakan salah satu permasalahan besar yang dihadapai Indonesia sehingga menyebabkan kemiskinan merajalela. Sebagai agama yang rahmatan lil ‘alamin  Islam diharapkan dapat memberikan sebuah tawaran yang lebih bersifat kontruktif dalam membangun peradaban yang ramah terhadap persoalan kemiskinan. Kemiskinan menjadi persoalan pelik umat Islam dimana pun berada. Kompleksitas persoalan tersebut tidak hanya pada kemiskinan, tetapi akibat kemiskinan ini berdampak pada sendi kehidupan lainnya seperti maraknya aksi kriminal sebagaimana disebutkan di awal, prostitusi, dan lain sebagainya. Lalu, bagaimana sebenarnya wacana agama dalam menyelesaikan dinamika persoalan ini.
Islam hadir dengan Alquran sebagai sumber nilai dalam kehidupan pemeluknya. Nilai yang terkandung dalam Alquran seharusnya dapat terinternalisasi dengan baik dalam kehidupan sehari-hari. Tujuan luhur ini tentunya harus terus dijaga dan dikembangkan sebagai salah satu bentuk syiar agama untuk lebih mencintai Alquran. Menanamkan nilai-nilai yang terkandung dalam Alquran tidak hanya sebuah kewajiban, melainan harus menjadi sebuah kebutuhan umat Muslim, termasuk dalam menangani problematika global Indonesia berupa kemiskinan. Kemiskinan dapat dicegah dengan merevolusi budaya kerja masyarakat Indonesia. Urgensi revolusi bekerja bagi setiap individu adalah sebuah keharusan tanpa menghilanggkan orientasi agama Islam yang menjunjung tinggi misi kemanusiaan, kebangsaan serta keumatan.
Etika serta budaya kerja Isalam dapat dirumuskan menjadi etos kerja muslim profetik (kenabian), sebuah  refleksi kritis-transformatif dalam menyelesaikan problem keumatan ini. Etos kerja muslim seperti ini mesti diorientasikan dalam mengkampayekan misi Islam yang ramah, toleran, moderat yang bermuara pada pembumian nilai-nilai profetik Islam. Nilai profetik Islam ini dapat dikaji lebih jauh dalam QS. Ali Imran/3: 110 yang mendasarkan pada nilai humanisasi (memanusiakan manusia dengan menyeru kepada kebaikan), liberasi (menyerukan untuk membebaskan manusia dari segala ketertindasan, kemiskinan, ketidakadilan, dan diskriminasi) dan transendensi (acuan dasar dalam dalam melaksanakan tugas humanisasi dan liberasi, yaitu keimanan kepada Allah dan RasulNya) (Kuntowijoyo: 2006). Tiga nilai dasar profetik dirasa cukup untuk menjadi asumsi dasar dalam menulis makalah ini.
B. ETOS KERJA: DOKTRIN AGAMA DAN SPIRIT BEKERJA
Bekerja sesungguhnya merupakan perwujudan dari eksistensi dan aktualisasi diri manusia dalam hidupnya. Bekerja adalah sebuah aktivitas yang menggunakan daya yang telah dianugrahkan oleh Allah SWT. Manusia, secara garis besar, dianugrahi empat daya pokok. Pertama, daya fisik yang enghasilkan kegiatan fisik dan keterampilan. Kedua, daya pikir yang mendorong pemiliknya berpikir dan menghasilkan ilmu pengetahuan. Ketiga, daya kalbu yang menjadikan manusia mampu berkhayal, mengekspresikakn keindahan, beriman dan merasa, serta berhubungan dengan Allah, Sang Pencipta. Keempat, daya hidup yang menghasilkan semangat juang, kemampuan menghadapi tantangan dan menanggulangi kesulitan (Quraish Shihab: 2013, 305).
Bekerja tentu saja tidak hanya sekedar bekerja. Pekerja harusllah memiliki etika. Etika bekerja ini disebut sebagai etos kerja. Etos dapat diartikan sebagai sikap, kepribadian, watak, karakter serta keyakinan atas sesuatu . Sikap ini tidak saja dimiliki oleh individu, tretapi juga oleh kelompok bahkan masyarakat. Adapun etos kerja dapat diartikan sebagai gairah atau semangat yang amat kuat untuk mengerjakan sesuatu secara optimal lebih baik dan bahkan berupaya untuk mencapai kualitas kerja yang sesempurna mungkin. Etos kerja kerap dikaitkan dengan profesionalitas kerja seseorang. Artinya, seseorang hendaknya dapat bekerja sesuai dengan kemampuan masing-masing (QS. Al-Isra: 34).
Bekerja secara profesional tidak hanya ditentukan dengan kemampuan yang dimiliki seseorang, melainkan juga etika ia dalam bekerja. Etika bekerja seorang Muslim setidaknya dapat memunculkan rasa gemar berusaha, hobi bekerja, sebagai mana Allah berfirman Dan Katakanlah: "Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan. (Q.S. Attaubah: 105).
Prof  Dr M. Quraish Shihab dalam tafsir Al- Misbah volume 5 halaman 710  menjelaskan bahwa, Allah SWT menilai dan memberi ganjaran dari tiap pekerjaan hambanya, dan Rosulnya serta orang mukmin akan melihat dan menilainya juga (Quraish, 2002 : 710 ). Selain itu, Imam Ali al-Shobuni dalam tafsirnya juga menjelaskan bahwa perintah bekerja dalam ayat tersebut adalah sebuah peringatan bahwa setiap pekerjaan yang dikerjakan oleh hamba-Nya tidak pernah luput dari pengawasan-Nya, lalu pada akhir ayat tersebut, diterangkan bahwa Allah akan membalas jerih payah dari setiap keringat yang keluar dari diri muslim dengan ganjaran yang setimpal, apabila baik, maka baik pula yang akan diperoleh, begitupun sebaliknya (Ali al-Shobuni: j. 1, …..).
Perintah bekerja telah diwajibkan semenjak nabi yang pertama, Adam Alaihi Salam sampai nabi yang terakhir, Muhammmad SAW. Perintah ini tetap berlaku kepada semua orang tanpa membeda-bedakan pangkat, status dan jabatan seseorang. Bekerja yang dilakuan oleh umat manusia adalah sesuai dengan ajaran islam, khususnya umat muslim. Berdasarkan syariat, seorang muslim diminta bekerja untuk mencapai beberapa tujuan. Yaitu untuk memenuhi kebutuhan pribadi dengan harta yang halal, mencegahnya dari kehinaan meminta-minta, dan menjaga tangannya agar tetap berada di atas. Dampak diwajibkannya bekerja bagi individu oleh Islam adalah dilarangnya meminta-minta, mengemis, dan mengharapkan belas kasih orang.
Bekerja diwajibkan demi terwujudnya keluarga yang sejahtera. Tanggung jawab seorang suami sebagai kepala keluarga adalah memberikan nafkah yang halal dan thayib bagi istri dan anak-anaknya. Hal ini dicontohkan oleh Nabi SAW., dalam potongan sabdanya “khairukum khairukum li ahlih, wa ana khairukum li ahlii” (sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya, dan aku adalah yang terbaik diantara kalian dalam memeperlakukan keluargaku”  (Al-Mubarakfuri: 2001, j. 9, 360). Adapun penjelasan mengenai “yang paling baik terhadap keluarganya” adalah dengan bekerja dan berpendapatan dari hasil kerja keras, karna “inna ma athyaba ma akala al-rajulu min kasbihi” (yang paling baik untuk dimakan oleh seseorang adalah hasil kerjanya sendiri) (al-Nasa’i: 2010, j. 4, 199). Allah memerintahan kepada manusia untuk bekerja dan memanfaatan segala sesuatunya yang sudah disediakan oleh Allah. Hadis-hadis tersebut merupakan bukti akan adanya revolusi mental dalam bekerja pada zaman Nabi SAW.
C.    IMPLEMENTASI ETOS KERJA MUSLIM PROFETIK
Pemilihan istilah profetik diadopsi dari pemikiran seorang sejarawan Indonesia Kuntowijoyo, seorang staf pengajar di salah satu universitas ternama di Indonesia. Profetik yang berarti “kenabian”, mengandung penjelasan tentang Nabi Muhammad yang telah sampai ke tempat tertinggi, namun kemudian beliau kembali kedunia untuk menunaikan tugas-tugas kerasulannya. Pengalaman Nabi yang luar biasa itu tidak mampu menggoda Nabi untuk berhenti, akan tetapi menjadikannya sebagai kekuatan psikologis untuk mengubah kemanusiaan melalui ajaran Islam serta sunna-sunnah yang ia bawa, kemudian sunah Nabi tersebut dinamakan denga etika profetik (Kuntowijoyo:1998, 69).
Spirit nilai profetik mengandung tiga unsur, amar ma’ruf, nahi munkar, serta tu’minuna billah (QS. Ali Imran: 110). Kemudian diberikan istilah yang sesuai dengan social significance berupa Humanisasi (amar ma’ruf), Liberasi (nahi munkar) serta trensendensi (tu’minuna billah). Etos kerja profetik sebagai konsep reflektif juga dapat menjadi sebuah instrumen dalam mewujudkan misi revolusi etika bekerja yang dibawa oleh Nabi Muhammad. Terdapat tiga proses penting dalam penanaman etos kerja Muslim profetik. Ketiga proses tersebut adalah: Internalisasi yaitu bagaimana kaum Muslim memasukkan doktrin agama Islam dalam bekerja, Eksternalisasi yaitu bagaimana mengimplementasikan etos kerja Muslim Profetik sesuai dengan doktrin agama, serta Objektifikasi yaitu interaksi sesama dalam membangun etos Kerja Muslim Profetik.
Khaira Ummah
Dijelaskan dalam kitab Fath al-Baari Syarh li Sohih al-Bukhari mengenai tafsiran QS Ali Imran ayat 110, dimana manusia terutama umat Nabi Muhammad SAW adalah khaira ummah, sejalan dengan sabdanya “wa ju’ilat ummati khairal umam” (dan ummatku telah dijadikan sebagai sebaik-baik umat), adapun konsep “khair al-nas” dimaknai dengan sebaik-baik manusia yang berlaku baik terhadap sesama dan dapat bermanfaat (Ibn Hajar al-Asqalani: 1998, j 8, 260). Khaira ummah dijadikan sebuah alasan mengapa manusia dituntut sebagai penyeru kepada kebaikan dan pencegah segala bentuk kemunkaran (Ali al-Shobuni: 216, j. 1).
Implementasi etos kerja muslim profetik dengan dasar khairu ummah dimaknai sebagai suatu upaya yang sungguh-sungguh, dengan mengerahkan seluruh aset, pikir, dan zikirnya untuk mengaktualisasikan atau menampakkan arti dirinya sebagai hamba Allah yang harus menundukkan dunia dan menempatkan dirinya sebagai bagian dari masyarakat yang terbaik. Atau dengan kata lain dapat juga kita katakan bahwa dengan hanya bekerja manusia itu memanusiakan dirinya.
Humanisasi: Amar Ma’ruf
Penanaman nilai profetik dalam diri seorang Muslim diperlukan dengan menjadikan al-Quran serta sunnah sebagai rujukan dalam menghadapi realita sosial. Konsep Humanisasi (memanusiakan manusia) hadir sebagai sebuah tawaran untuk masalah kriminalitas yang disebabkan oleh degradasi moral masyarakat Indonesia yang dipicu rendahnya semangat kerjapelaku tindak kriminalitas. Pelaku kriminalitas sering kali kehilangan kemanusiannya. Karenanya, suatu usaha untuk mengangkat kembali martabat manusia humanisasi sangat diperlukan. Hal ini digambarkan dalam QS. Al-Tin: 5, dimana seluruh manusia dapat terjatuh ke tempat yang paling rendah. Kemudian ayat itu mengecualikan orang-orang yang beriman dan beramal shalih. Kiranya ayat ini merujuk pada humanisasi, yaitu iman dan amal shalih, tentu saja implikasi dari amal shalih itu sangat luas, salah satunya adalah dengan bekerja.
Humanisasi memberikan kesempatan setiap pribadi muslim untuk  mengembangkan potensi yang dimilikinya sesuai dengan konteks pekerjaan yang dihadapinya. Manusia harus melakukan rekonstruksi pemikiran menuju pemikiran yang lebih transformatif dan berwawasan global, yakni sebuah pemikiran yang mampu membaca kondisi riil masyarakat di dunia global khususnya di dunia pekerjaan dan tantangannya dalam menuju keberlangsungan hidup manusia serta mampu mengambil sikap yang berwawasan masa depan dengan tetap mengawali nilai-nilai humanis dalam bekerja.
Liberasi: Nahi Munkar
Liberasi diserap dari bahasa al-Quran Nahi Munkar yang berarti melarang, mencegah segala tindak kejahatan juga kerusakan. Liberasi dalam pembahasan nilai profetik ini mengarah pada liberasi dalam konteks ilmu. Salah satu sasaran dari liberasi ini adalah sistem pengetahuan. Liberasi sistem pengetahuan ialah usaha-usaha untuk membebaskan orang dari sistem pengetahuan materialistis dari dominasi struktur, misalnya dari kelas sosial dan seks (Kuntowijoyo:1998, 73).
Transendensi: Tu’minuna Billah
            Bagi umat Islam transendensi berarti beriman kepada Allah SWT. Kedua unsur nilai profetik (humanisasi dan liberasi) harus mempunyai rujukan Islam yang jelas. Sudah selayaknya Umat Islam meletakkan Allah sebagai pemegang otoritas , Allah Yang Maha Objektif. Jika tidak demikian maka dimungkinkan akan timbulnya relativisme penuh dimana nilai dan norma sepenuhnya adalah urusan pribadi, nilai tetrgantung pada masyarakat, sehingga nilai dari golongan yang dominan akan menguasai. Transendensi merupakan konsep yang diderivasikan dari lafadz tu’minuna billah (beriman kepada Allah), menghadirkan nilai-nilai keilahian sebagai semangat integralisasi realitas dengan teks (wahyu). Transendensi adalah dasar dari humanisasi dan liberasi. Maka, transendensi memberikan arah kemana dan untuk tujuan apa humanisasi dan liberasi itu dilakukan.
            Dari beberapa konsep di atas, kita dapat melihat pijakan nilai profetik yang ditawarkan sebagai paradigma baru Umat Islam dalam mengatasi segala bentuk permasalahan besar Indonesia. Konsep yang diadopsi dari beberapa ayat al-Quran juga menunjukkan kepada kita tentang langkah-langkah preventif dalam penyelesaian dengan selalau mencari keridhaan Allah. Beberapa langkah preventif yang tidak terlepas dari spirit profetik yang dapat dilakukan bagi umat islam seluruhnya diantaranya dengan Iman yang mendalam yang mengantarkan kepada takwa dan taat kepada perintah Allah, mengendalikan pandangan mata dari segala hal yang dilarang Allah SWT, menumbuhkan semangat bekerja……